Jika kita tanyakan kepada sebagian peserta didik, mengapa mereka memilih jurusan ilmu-ilmu alam, jawaban spontan yang keluar adalah karena mereka tidak suka menghafal. Saya lebih bisa berhitung daripada menghafal. Jawaban ini juga yang terlontar dari teman-teman satu jurusan waktu awal-awal kuliah dulu, ketika saya tanya kenapa mengambil jurusan fisika teoritis. Tetapi benarkah ketika kita mengambil jurusan yang berbau-bau ilmu alam tidak perlu menghafal? Bagaimana dengan rumus-rumus yang kelihatan manis itu? Seperti persamaan gelombang, persamaan bernoulli, persamaan schrodinger ataupun ketidakpastian heisenberg. Apalagi dengan prinsip-prinsip, teorema atau aksioma. Bukankah kita harus menghafal rumus-rumus dasar terlebih dahulu sebelum kita mendalami konsep-konsep baru? Atau setelah kita memahami konsep-konsep baru, kita juga akan menggunakan rumus-rumus dasar atau menghasilkan rumus-rumus dasar yang baru, yang jauh lebih memudahkan kita untuk memecahkan masalah jika kita hapal rumusnya.
Begitu juga para bapak-bapak dan ibu-ibu instruktur. Terkadang dengan rasa percaya diri yang tinggi lantas memberikan saran agar ketika belajar fisika tidak perlu menghafal rumus-rumus. Sebaiknya beliau-beliau ini mengatakan bahwa belajar fisika tidak saja harus menghafal rumus-rumus, tapi juga harus mengingat dan memahami konsep-konsep dasar sehingga kita tahu bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
Lantas? Mungkin kita harus bisa membedakan antara kurang suka menghafal dengan malas menghafal. Atau jangan-jangan kita malas belajar? Karena kemalasan akan bisa menimbulkan ketidaksukaan, atau ketidaksukaan juga bisa menimbulan kemalasan.
Disini, sebenarnya apa yang kita lakukan berawal dari ketidaksukaan. Rasanya tidak ada aktivitas di dunia ini yang kita lakukan tanpa diawali dengan rasa tidak suka. Coba tanyakan kepada ibu-ibu kita, bagaimana kita ketika kecil dahulu. Misalnya, begitu susahnya kita untuk disuruh makan, karena kita pada waktu itu kurang suka sehingga menjadi malas makan, dan kini telah beratus-ratus kilo nasi yang telah kita olah dan proses didalam perut kita, karena kita saat ini begitu suka dengan nasi tersebut.
Kita menjadi pembelajar yang hebat pada saat itu, meski kita tidak suka menerima kenyataan bahwa kita akan terjatuh di jalan dengan sedikit luka, ketika kita mencoba belajar berjalan. Begitu baiknya orang-orang baik yang ada disekitar kita menjadi penyemangat agar kita tetap mencoba terus menatih-natihkan kaki kita, satu dua, agar kita bisa melangkah dengan tegap nantinya.
Atau jangan-jangan kita menangis ketika kita dilahirkan didunia karena kita tidak suka dengan dunia ini pada awalnya? Setelah itu, begitu cintanya kita kepada dunia, sehingga kita akan malas untuk meninggalkan apa-apa yang bersifat duniawi.
Puasa, siapa sebenarnya yang suka melakukan ibadah seperti ini pada awalnya? Saat kita diminta untuk menahan lapar, haus dan mengendalikan hawa nafsu. Tapi bagi yang kemudian tahu, bahwa segala rasa yang harus ditahan pada waktu berpuasa itu justru akan menerbitkan kemanfaatan-kemanfaatan yang tidak akan kita peroleh dari kegiatan-kegiatan manapun. Rasa lapar dan haus yang mendera kita ternyata bisa menyehatkan kita dan melatih perasaan kita untuk berempati kepada penderitaan orang lain yang belum berkecukupan; belum lagi jika dihitung dengan apa yang akan diberikan Allah Subhana Wa Ta’ala nantinya.
Seperti halnya memakan obat, siapa yang suka dengan pahitnya obat? Tetapi jika kita tahu manfaatnya setelah kita memakan obat itu, maka kita akan menyukai untuk menelan obat itu layaknya kita menelan sepotong burger.
Begitu juga menghafal. Jangan diikuti ketidaksukaan kita untuk menghafal. Dengan waktu yang hanya kurang dari 120 menit ketika ujian nasional nanti, kita perlu hafalan rumus-rumus untuk menyelesaian sekitar 40-an soal yang memang dirancang untuk bisa diselesaikan oleh orang-orang yang telah hafal beberapa persamaan-persamaan.
Banyak hal didunia ini bisa dinikmati jika kita bisa menghafal. Kita harus hafal teks-teks nasyid jika kita ingin bersenandung, kita harus hafal al-Quran jika kita ingin dimuliakan di dunia ataupun diakhirat. Kita juga harus hafal beberapa do’a-do’a agar kita dilindungi-Nya. Kita juga harus hafal jalan pulang kita kerumah (ha? Memang ada yang lupa?).
Memang sedikit sulit awalnya dalam proses menghafal itu. Meski banyak cara disarankan, namun yang terbaik bagaimana kita bisa menghafal dengan cepat dan tepat adalah cara yang kita miliki sendiri. Temukan caranya. Cara-cara yang dibuat oleh orang lain, hanya untuk memperkaya cara kita menghafal atau untuk memberikan alternatif bagaimana model kita menghafal. Bisa mengulang-ulang membaca, bisa menulis ulang, bisa menempel di dinding, bisa dengan cara digunakan berulang-ulang dan seterusnya. Untuk fisika, salah satu cara terbaik adalah sering-sering berlatih menggunakan rumus-rumus itu agar rumus-rumus itu terhapal (ini salah satu hal, kenapa hand-out kita berisi lumayan banyak soal-soal latihan). Akan tetapi, cobalah temukan cara terbaik yang bisa kita gunakan, dan itulah kita.
Sekali lagi, jangan malas menghafal. Agar setelah ujian yang akan datang jangan sampai terucap lagi kata-kata: aduh, gimana ya, saya benar-benar tidak menghafal rumusnya, jadi gak bisa ngerjain soal itu.
Terakhir, setelah kita berusaha untuk menghafal, berdoa’alah kepada-Nya:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا،وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma inni as aluka ‘ilman naafian, war rizqon toyyiban, wa ‘amalan mutaqobbala…
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” (HR Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 54, dan Ibnu Majah n0. 925. Isnadnya hasan menurut Abdul Qadir dan Syu’aib al-Arna’uth dalam taqiq Zad Al-Maad 2/375).
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Allumma inni a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’u wa min qolbi laa yakhsya’u wamin nafsin laa tasyba’u wa min da’watin laa yustajaa bulahaa
“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (Hadits dari Zain bin Arqam radhiallahu ‘anhu, HR Muslim No. 6906 )
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا.
Robbi zidnii ‘iIman warzuqnii fahmaa.
Ya Alloh, tambahkanlah ilmu pengetahuanku dan berilah aku kefahaman
اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْمًا وَالْحَمْدُِ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
Alloohumman fa’nii bimaa ‘allamtanii wa’allimnii maa yanfa’unii wa zidnii ‘ilmaan walhamdulillaahi ‘alaa kullii haalin wa a’uudzubilaahi min ‘adzaabin naar
“Ya Allah, berilah kemanfaatan untukku ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku serta tambahkan untukku ilmu. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan . Dan aku mohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzy
Begitu juga para bapak-bapak dan ibu-ibu instruktur. Terkadang dengan rasa percaya diri yang tinggi lantas memberikan saran agar ketika belajar fisika tidak perlu menghafal rumus-rumus. Sebaiknya beliau-beliau ini mengatakan bahwa belajar fisika tidak saja harus menghafal rumus-rumus, tapi juga harus mengingat dan memahami konsep-konsep dasar sehingga kita tahu bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.
Lantas? Mungkin kita harus bisa membedakan antara kurang suka menghafal dengan malas menghafal. Atau jangan-jangan kita malas belajar? Karena kemalasan akan bisa menimbulkan ketidaksukaan, atau ketidaksukaan juga bisa menimbulan kemalasan.
Disini, sebenarnya apa yang kita lakukan berawal dari ketidaksukaan. Rasanya tidak ada aktivitas di dunia ini yang kita lakukan tanpa diawali dengan rasa tidak suka. Coba tanyakan kepada ibu-ibu kita, bagaimana kita ketika kecil dahulu. Misalnya, begitu susahnya kita untuk disuruh makan, karena kita pada waktu itu kurang suka sehingga menjadi malas makan, dan kini telah beratus-ratus kilo nasi yang telah kita olah dan proses didalam perut kita, karena kita saat ini begitu suka dengan nasi tersebut.
Kita menjadi pembelajar yang hebat pada saat itu, meski kita tidak suka menerima kenyataan bahwa kita akan terjatuh di jalan dengan sedikit luka, ketika kita mencoba belajar berjalan. Begitu baiknya orang-orang baik yang ada disekitar kita menjadi penyemangat agar kita tetap mencoba terus menatih-natihkan kaki kita, satu dua, agar kita bisa melangkah dengan tegap nantinya.
Atau jangan-jangan kita menangis ketika kita dilahirkan didunia karena kita tidak suka dengan dunia ini pada awalnya? Setelah itu, begitu cintanya kita kepada dunia, sehingga kita akan malas untuk meninggalkan apa-apa yang bersifat duniawi.
Puasa, siapa sebenarnya yang suka melakukan ibadah seperti ini pada awalnya? Saat kita diminta untuk menahan lapar, haus dan mengendalikan hawa nafsu. Tapi bagi yang kemudian tahu, bahwa segala rasa yang harus ditahan pada waktu berpuasa itu justru akan menerbitkan kemanfaatan-kemanfaatan yang tidak akan kita peroleh dari kegiatan-kegiatan manapun. Rasa lapar dan haus yang mendera kita ternyata bisa menyehatkan kita dan melatih perasaan kita untuk berempati kepada penderitaan orang lain yang belum berkecukupan; belum lagi jika dihitung dengan apa yang akan diberikan Allah Subhana Wa Ta’ala nantinya.
Seperti halnya memakan obat, siapa yang suka dengan pahitnya obat? Tetapi jika kita tahu manfaatnya setelah kita memakan obat itu, maka kita akan menyukai untuk menelan obat itu layaknya kita menelan sepotong burger.
Begitu juga menghafal. Jangan diikuti ketidaksukaan kita untuk menghafal. Dengan waktu yang hanya kurang dari 120 menit ketika ujian nasional nanti, kita perlu hafalan rumus-rumus untuk menyelesaian sekitar 40-an soal yang memang dirancang untuk bisa diselesaikan oleh orang-orang yang telah hafal beberapa persamaan-persamaan.
Banyak hal didunia ini bisa dinikmati jika kita bisa menghafal. Kita harus hafal teks-teks nasyid jika kita ingin bersenandung, kita harus hafal al-Quran jika kita ingin dimuliakan di dunia ataupun diakhirat. Kita juga harus hafal beberapa do’a-do’a agar kita dilindungi-Nya. Kita juga harus hafal jalan pulang kita kerumah (ha? Memang ada yang lupa?).
Memang sedikit sulit awalnya dalam proses menghafal itu. Meski banyak cara disarankan, namun yang terbaik bagaimana kita bisa menghafal dengan cepat dan tepat adalah cara yang kita miliki sendiri. Temukan caranya. Cara-cara yang dibuat oleh orang lain, hanya untuk memperkaya cara kita menghafal atau untuk memberikan alternatif bagaimana model kita menghafal. Bisa mengulang-ulang membaca, bisa menulis ulang, bisa menempel di dinding, bisa dengan cara digunakan berulang-ulang dan seterusnya. Untuk fisika, salah satu cara terbaik adalah sering-sering berlatih menggunakan rumus-rumus itu agar rumus-rumus itu terhapal (ini salah satu hal, kenapa hand-out kita berisi lumayan banyak soal-soal latihan). Akan tetapi, cobalah temukan cara terbaik yang bisa kita gunakan, dan itulah kita.
Sekali lagi, jangan malas menghafal. Agar setelah ujian yang akan datang jangan sampai terucap lagi kata-kata: aduh, gimana ya, saya benar-benar tidak menghafal rumusnya, jadi gak bisa ngerjain soal itu.
Terakhir, setelah kita berusaha untuk menghafal, berdoa’alah kepada-Nya:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا،وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma inni as aluka ‘ilman naafian, war rizqon toyyiban, wa ‘amalan mutaqobbala…
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.” (HR Ibnu As-Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 54, dan Ibnu Majah n0. 925. Isnadnya hasan menurut Abdul Qadir dan Syu’aib al-Arna’uth dalam taqiq Zad Al-Maad 2/375).
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Allumma inni a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’u wa min qolbi laa yakhsya’u wamin nafsin laa tasyba’u wa min da’watin laa yustajaa bulahaa
“Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (Hadits dari Zain bin Arqam radhiallahu ‘anhu, HR Muslim No. 6906 )
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا.
Robbi zidnii ‘iIman warzuqnii fahmaa.
Ya Alloh, tambahkanlah ilmu pengetahuanku dan berilah aku kefahaman
اَللَّهُمَّ انْفَعْنِيْ بِمَا عَلَّمْتَنِيْ وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِيْ وَزِدْنِيْ عِلْمًا وَالْحَمْدُِ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَاَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
Alloohumman fa’nii bimaa ‘allamtanii wa’allimnii maa yanfa’unii wa zidnii ‘ilmaan walhamdulillaahi ‘alaa kullii haalin wa a’uudzubilaahi min ‘adzaabin naar
“Ya Allah, berilah kemanfaatan untukku ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku serta tambahkan untukku ilmu. Segala puji bagi Allah atas segala keadaan . Dan aku mohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka. (HR Ibnu Majah dan Tirmidzy






















