Minggu, 02 Maret 2014

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM (PERTUMBUHAN MADRASAH)






Oleh:
Achmad Alwasim
M Yusuf Qardlawi



PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak agama Islam berkembang di Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari bawah, dalam arti masyarakat (umat) yang didasari oleh tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam kepada generasi penerus. Oleh karena itu madrasah pada waktu itu lebih ditekankan pada pendalaman ilmu-ilmu Islam.[1]
Kemudian posisi ilmu umum terus menguasai searah perkembangan kehidupan umat Islam dan masyarakat Indonesia. Madrasah itu kini disebut sekolah umum berciri khas agama, di mana ilmu agama hanya menjadi bagian kecil kurikulum lembaga ini.Kemudian dalam makalah ini, kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang pertumbuhan madrasah .
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH PERTUMBUHAN MADRASAH

A. Madrasah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam

1. Pengertian Madrasah

Kata madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran.[2] Madrsah  Dari akar kata "darasa" juga bisa diturunkan kata "midras" yang mempunyai arti "buku yang dipelajari" atau "tempat belajar"; kata "al-midras" juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari kitabTaurat".[3] 
Dalam bahasa Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran.[4]
Dari pengertian di atas maka jelaslah bahwa madrasah adalah wadah atau tempat belajar ilmu-imu keislaman dan ilmu pengetahuan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah madrasah bersumber dari Islam itu sendiri.

2. Latar Belakang madrasah secara umum

Madrasah mulai didirikan dan berkembang pada abad ke 5 H atau abad ke-10 atau ke-11 M. pada masa itu ajaran agama Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, dengan berbagai macam mazhab atau pemikirannya. Pembagian bidang ilmu pengetahuan tersebut bukan saja meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an dan hadis, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam, maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran, matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.[5]
Aliran-aliran yang timbul akibat dari perkembangan tersebut saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam, dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing. Maka terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran, mazhab atau aliran. Itulah sebabnya sebahagian besar madrasah didirikan pada masa itu dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang masyhur pada masanya, misalnya madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah atau Hanbaliyah.[6]

Berdasarkan dengan keterangan di atas, jelaslah bahwa penggunaan istilah madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam maupun sebagai aliran atau mazhab bukanlah sejak awal perkembangan Islam, tetapi muncul setelah Islam berkembang luas dan telah menerima pengaruh dari luar sehingga terjadilah perkembangan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai macam aliran dan mazhabnya.

Pada awal perkembangan Islam, terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran, yaitu kuttab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-Qur’an, serta dasar-dasar pokok ajaran Islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan tingkat dasar. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan pada masa itu yang hanya diikuti oleh orang-orang dewasa. Dari masjid-masjid ini, lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan Islam, dan dari sini pulalah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam berbagai ilmu pengetahuan, yang waktu itu dikenal dengan istilah madrasah. Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat Islam maju dengan pesatnya, bahkan dari satu periode ke periode berikutnya semakin meningkat.

Untuk menampung kegiatan khalaqah yang semakin banyak, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajaran dan bidang ilmu pengetahuan yang diajarkan, maka dibangunlah ruangan-ruangan khusus untuk kegiatan 
khalaqah atau pengajian tersebut di sekitar masjid.

 Di samping dibangun pula asrama khusus untuk guru dan pelajar, sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar setiap hari secara teratur, yang disebut dengan zawiyah atau madrasah yang pada mulanya hanya dibangun di sekitar masjid, tetapi pada perkembangan selanjutnya banyak dibangun secara sendiri.

Pada hakikatnya timbulnya madrasah-madrasah di dunia Islam merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan kegiatan proses belajar mengajar dalam upaya untuk menampung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar yang semakin meningkat dan bertambah setiap tahun ajaran.Sementara itu, madrasah boleh dikatakan sebagai fenomena baru dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, yang kehadirannya sekitar permulaan abad ke-20. Namun dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajarannya masih belum punya keseragaman antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, terutama sekali menyangkut kurikulum dan rencana pelajaran. Usaha ke arah penyatuan dan penyeragaman sistem tersebut, baru dirintis sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka. Dan pada perkembangannya madrasah terbagi dalam jenjang-jenjang pendidikan; Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

3. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Madrasah
Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang seluk beluk serta pekembangan madrasah, pemakalah merasa perlu memahas secara singkat tentang lembaga pendidikan yang lahir sebelum adanya madrasah. Hal ini dimaksudkan agar adanya gambaran tentang corak pendidikan yang terjadi di dunia Islam.
1.      Darul Arqam
Islam mengenal lembaga pendidikan atau pusat pendidikan semenjak detik-detik awal turunnya wahyu kepada nabi Muhammad SAW. Rumah Arqam bin abil-Arqam merupakan lembaga pendidikan pertama atau bisa disebut Darul Arqam. Guru agung yang pertama, yaitu  nabi Muhammad SAW mengumpulkan sekumpulan kecil pengiku-pengikutnya yang percaya kepadanya secara diam-diam. Di rumah inilah beliau mengajar kumpulan kecil ini, yaitu mengajarkan al-Qur’an yang diturunkan melalui malaikat Jibril.[7]

2.      Shuffah
Shuffah merupakan institusi pendidikan untuk aktivitas belajar pada masa Rasulullah SAW. Ketika berada di kota madinah. Oleh rasulullah saw, ubaid ibnu al-samit diangkat menjadi guru di suffah tersebut. Lembaga ini didirikan sebagai tempat mempelajari, membaca, dan menghafal al-qur’an yang langsung dibimbing oleh Nabi. Disamping itu, ada beberapa materi lainnya juga diajarkan antara lain ; ilmu dasar, berhitung, kedokteran, dan ilmu fonetik.[8]

3.      Kuttab atau Maktab
Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti menulis atau tempat menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga pendidikan dasar. Menurut sejarah, kuttab telah ada sejak pra islam. Diperkirakan mulai dikembangkan oleh pendatang ke tanah Arab, yang terdiri dari kaum Yahudi dan Nasrani sebagai cara mereka memperkuat taurat dan injil, filsafat, jadal (ilmu debat) dan topic-topik yang berkenaan dengan agama mereka.
Menurut Hasan Fahmi, al-kuttab merupakan lembaga pendidikan pendidikan islam pertama. Tampaknya al-kuttab didirikan oleh orang Arab pada masa Abu Bakar dan Umar, yaitu sesudah mereka melakukan penaklukan-penaklukan dan sesudah mereka mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju.
Diawal perkembangan Islam, kuttab tersebut dilaksanakan di rumah-rumah guru yang bersangkutan dan materi yang diajarkan semata-mata menulis dan membaca (sya’ir-sya’ir) terkenal. Kemudian akhir abad 1H, mulai timbul kuttab yang di samping memberikan pendidikan menulis dan membaca, juga  mengajarkan membaca al-Qur’an dan pokok ajaran agama.[9]
4.      Masjid
Era madinah merupakan proses awal berdirinya pendidikan masjid, terutama setelah Rasulullah mendirikan masjid Quba dann beberapa masjid lainnya. Di masjid, seluruh kegiatan ummat difokuskan, termasuk pendidikan. Majlis pendidikan yang dilakukan rasulullah bersama sahabat di masjid dilakukan dengan system pengajian halaqah. Namun dalam perkembangannya kemudian dikalangan ummat Islam tumbuh semangat untuk menuntut ilmu dan memotivasi mereka mengantarkan anak-anaknya untuk memproleh pendidikan di masjid sebagai lembaga pendidikan menengah setelah kuttab.[10]
5.      Ribath
Menurut pengertian yang diberikan Al-Marqrizi yang dimaksudkan dengan ar-ribath ialah rumah-rumah yang sufi dan tempat tinggal mereka yang didiami oleh sejumlah yabng terbatas dari fuqara yang mengasingkan diri yang tidak mempunyai keluarga dan mempersiapkan diri mereka untuk belajar dan beribadat semata-mata.
Disana telah didirikan pula ar-ribath yang dikhususkan bagi para wanita, dimana mereka bertempat tinggal, beribadat, dan megajarkan pelajaran agama di dalamnya. Di sana telah tedapat pula ribath yang dikenal denagn nama ribath al-Baghdadiyyah yang dibangun pada tahun 684 H untuk seorang syeikh wanita yang bernama syeikh Zainab al-Baghdadiyyah. Beliau bertempat tinggal bersama-sama dengan sejumlah wanita yang baik-baik yang mengasingkan diri untuk nbelajar dan beribadat.
6.      Zawiyyah
Zawiyyah dibangun untuk orang-orang tasawwuf yang fakir supaya mereka dapat belajar dan beribadat. Contohnya seorang raja dari al-Mamalik membangun sebuah zawiyyah al-jmairah diabad XIII M dan ditempatkan di dalamnya beberapa orang sufi dan fakir. Dan kadang-kadang pula zawiyyah ini didirikan untuk seorang syeikh yang termasyhur yang bertugas untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan mengasingkan diri untuk beribadat. Pada umumnya zawiyyah itu dikenal dengan nama seorang syeikh yang terkenal dengan ilmunya dan takwanya.[11]

4. Eksistensi Madrasah dan Sekolah Islam

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia relatif lebih muda dibanding pesantren. Lahir pada abad 20 dengan munculnya madrasah Manbaul Ulum Kerajaan Surakarta tahun 1905 dan Sekolah Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad di Sumatera Barat tahun 1909. Madrasah berdiri atas
inisiatif dan realisasi dari pembaharuan sistem pendidikan Islam yang telah ada. Menarik untuk diamati mengapa sistem pendidikan pesantren sendiri justru tidak bersifat statis, tetapi selalu mengalami pertumbuhan seiring dengan perubahan masyarakat yang terjadi.Demikian juga madrasah dan sekolah Islam di Indonesia selalu melakukan terobosan-terobosan guna mempertahankan eksitensinya
(Mas’ud Abdurrahman, 2002: 226) .

Pembaharuan tersebut menurut Mastuhu, meliputi tiga hal,yaitu: (1)Usaha menyempurnakan sistem pendidikan pesantren, (2) Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan (3) Upayamenjembatani antara sistem pendidikan tradisional pesantren dansistem pendidikan Barat..

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, kini ditempatkan sebagai pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Di dalam salah satu diktum surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah agar lulusan dari madrasah dapat
melanjutkan ke sekolah-sekolah umum, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Mastuhu, 1999: 226)[12]

B. Pertumbuhan Madrasah di Indonesia

1. Latar Belakang Lahirnya
Tampaknya kelahiran madrasah sebagai lembaga pedidikan Islam setidak-tidaknya mempunyai latar belakang, diantaranya :
Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam.[13]
 Dalam tradisi Islam di Indonesia, kemunculan dan perkembangan madrasah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam yang diawali oleh usaha sejumlah tokoh intlektual agama dan kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, baik di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Bagi kalangan pembaharu, pendidikan agaknya senantiasa dipandang sebagai aspek strategis dalam membentuk pangangan keislaman masyarakat.[14]
Munculnya gerakan pembaharuan di Indonesia pada awal abad 20 dilatar belakangi oleh semangat yang kompleks. Dengan menggunakan rentang waktu antara 1900 sampai dengan 1945, Karel A Steenbrink mangidentifikasi empat faktor yang mendorng gerakan pembaharuan Islam di Indonesia awal abad 20, antara lain ;
1.        Faktor keinginan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits
2.        Faktor semangat nasionalisme dalam melawan penjajah
3.        Memperkuat basis gerakan social, ekonomi, budaya, dan politik
4.        Faktor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam hal ini, ia member catatan bahwa keempat faktor itu tidak secara terpadu medorong gerakan pembaharuan, melainkan bahwa gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul di Indonesia disebabkan oleh salah satu atau dua faktor tersebut. Dengan kata lain, menurut steenbrink, gerakan-gerakan pembaharuan Islam di Indonesia memiliki alasan atau motif yang berbeda-beda.[15]
a.         Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren kearah suatu pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah.
b.        Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
c.         Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendididkan teradisional yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi.[16]
2. Madrasah pada masa pertumbuhan
Sebelum abad 20, tradisi pendidikan Islam di Indonesia agaknya tidak mengenal istilah madrasah, kecuali pengajian al-Qur’an, masjid, pesantren,  surau, langgar dan tajug. Dalam sistem pendidikan yang disebut diatas memang tidak dilakukan pengkelasan dalam pengertian modern, tetapi dalam perakteknya tetap ada penjenjangan yang biasanya diatur berdasarkan tingkatan kitab yang diajarkan. Mahmud Yunus memasukkan ke dalam madrasah kurun perumbuhan ini antara lain
1.        Adabiah school (1909) dan diniah school labia al-yunusiy (1915) di sumatera barat,
2.        madrasah Nahdlatul ulama di Jawa Timur, madrasah Muhammadiyah di Yogyakarta, madrasah tasywiq thullab di jawa tengah, madrasah persatuan ummat islam di jawa barat.
3.         madrasah jam’iyat kheir di Jakarta,
4.        madrasah amirah islamiah di Sulawesi,
5.        dan madrasah assulthaniyyah di Kalimantan.
Salah satu ciri penting dari madrasah-madrasah periode pertumbuhan adalah bahwa eksitensinya antara satu sama lain masih terpisah-pisah. Usaha mendirikan masrasah masih berifat pribadi atau organisasi dalam pengertian sempit. Madrasah-madrasah di padang tidak memiliki hubungan maupun tidak langsung dengan madrasah-madrasah  di jawa. Tidak ada pengaturan yang bersifat umum dan mengikat mengenai bentuk kelembagaan, struktur managemen, dan kurikulumnya. Seperti diisyaratkan oleh steenbrink, usaha pendirian madrasah itu bertolak dari motif masing-masing, namun semuanya mengarah pada penigkatan peran umat islam. Dengan demikian uniformitas pada masdrasah-madrasah itu hanya dapat dilihat dalam hal sistem pendidikannya yang berkelas dan isi pendidikannya yang memberi perhatian pada ilmu-ilmu agama.[17] Disini pemakalah hanya akan memaparkan gambaran tentang madrasah-madrasah yang tumbuh di minangkabau dan jawa :
a.        Beberapa madrasah di Minangkabau

1.        Madrasah adabiah.
Madrasah ini adalah madrasah yang tumbuh pada awal pembaharuan yaitu tahun 1907. Tokoh pendirinya adalah Abdullah Ahmad, beliau adalah seorang pelopor pembaharuan di wilayah minagkabau. Beliau adalah seorang yang haus akan ilmu, hal itu terbukti ketika beliau berusia tujuh belas tahun (1895), beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, sambil melanjutkan pelajaran agama pada syaikh Ahmad Khatib, seorang ulama asal Minagkabau yang bermukim di Makkah, serta kepada beberapa ulama lainnya di Makkah. Salah satu pertimbangan dikirimnya Abdullah Ahmad ke Mekkah adalah karena minagkabau pada saat itu belum ada sekolah agama yang teratur baik, sementara Makkah pada saat itu terkenal sebagai pusat penyebaran agama Islam, dan sudah banyak orang mingakabau yang bermukim di sana.[18]
Pada awalnya madrasah adabiyah didirikan di padang panjang, halaman beliau sendiri. Sistem pendidikan madrasah ini sangat berbeda dari cara pendidikan di surau. Secara konsisten, Abdullah Ahmad menyelenggarakan madrasah itu dengan mengajarkan ilmu-ilmu agama dan ditambah dengan pelajaran membaca dan menulis latin serta ilmu hitung. Jika dalam pendidikan di surau tidak dilakukan secara per kelas, maka dalam rencana pendidikan di madrasah Adabiyah diatur berdasarkan kelas.[19]
Mata pelajaran agama dalam kurikulum madrasah ini hanya diberikan dua kali seminggu,selebihnya untuk mata pelajaran umum dan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Karena kualitas pendidikan dan kurikulum pengajarannya, madrasah ini memperoleh pengakuan dari pemerintah Belanda pada tahun 1915. Peristiwa ini berarti, bahwa madrasah ini merupakan sekolah pertama setingkat HIS yang didirikan oleh kalangan Islam Minangkabau, dan bahkan mungkin juga pertama di Indonesia. Mahmud Yunus menyebut madrasah ini adalah HIS Adabiyah. Namun demikian, berbeda dengan HIS yang terbatas bagi kalangan bengsawan dan pegawai, madrasah Adabiyyah terbuka bagi umum sejauh dapat membayar uang pendidikan yang tidak begitu mahal. Oleh karena itu, kalangan pedagang sangat suka dengan madrasah ini sehingga mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah.[20]
2.        Madrasah diniyah
Madrasah ini didirikan oleh Zainuddin Labai el-Yunusiy (1890-1924) pada tanggal 10 oktober 1915.  Madrasah ini dilakukan secara perkelas dengan susunan pelajaran yang terpadu antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum. Dilaksanakan pada sore hari, madrasah ini pertama-tama mengajarkan dasar-dasar bahasa Arab kemudian melatih pembacaan al-Qur’an. Pengetahuan umum yang diberikan terdiri dari sejarah dan ilmu bumi. Secata umum, madrasah ini agaknya lebih menekankan pada penguasaan bahasa Arab, sehingga pada kelas yang lebih tinggi teks-teks untuk pengetahuan bahasa umum pun menggunakan buku-buku berbahasa Arab.[21]
Terdapat perbedaan antara Madrasah diniyah dengan madrasah Adabiyah. Madrasah diniyah agaknya merupakan bentuk pendidikan islam yang sejalan dengan pola yang ditawarkan gerakan pembaharuaan di timur tengah, sedangkan madrasah adabiyah lebih merupakan sekolah Belanda yang ditambah dengan materi pendidikan agama.[22]
Madrasah-madrasah diniyah di Minangkabau secara umum megajarkan juga mata pelajaran agama, yang biasa disampaikan di surau-surau, dan pelajaran umum. Dalam hal mata pelajaran agama, meskipun bidang kajiannya tidak berbeda dengan pelajaran di surau, tetapi buku-buku pelajarannya mengalami modifiikasi. Teks-teks baru dari Mesir dijadikan pedoman meskipun untuk kelas permulaan biasanya disajikan dalam bentuk tejemahan atau ringaksan dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab klasik seperti al-jurmiyah dan qawaid al-lughah ‘Arabiyah, karya Mahmud Yunus yang disajika dalam sistem modern. Pada kelas-kelas yang lebih tinggi, untuk hampir semua mata pelajaran digunakan kitab-kitab modern terbitan Mesir atau Beirut.[23]
3.        Madrasah Diniyah Putri
Madrasah ini didirikan oleh Rangkayo Rahmah al-Yunisiah, saudara putrid Zainuddin Labai. Madrasah ini berdiri pada dasarnya sebagai usaha memberikan kesempatan yang lebih luas kepada kalangan pelajar putrid. Hal ini tentu merupakan kredit tersendiri bagi madrasah rahmah al-yunusiah ini. Madrasah ini terdiri dari enam kelas dam mengikuti pila pengajarna dan komposisi kurikulum yang sama dengan madrash diniyah pada umumnya. Mata pelajaran yang diberikan antara lain Fiqh, Tafsir, tauhid, hikmah tasyri’, adab (akhlaq), hadits, nahwu, saraf, ilmu bumi, usul fiqh, ‘arudh, tarikh islam, menulis arab, keputrian, pendidikan rumah tangga, bahasa inggris, belanda, ilmu bumi, dan sebagainya.[24]
4.        Madrasah Sumatra tawalib
Madrasah ini dipelopori oleh abdul karim amrullah yang dikenal dengan haju rasal. Pada awalnya sumatera tawalib merupakan surau, namun kemudian (yang pertama) memperkenalkan sistem kelas, dan pada tahun 1911 diubah menjadi sumarta tawalib. Di parabek (bukit tinggi) pada tahun 1921, berdiri pula sumatera rawalib dengan nama yang sama dipimpi oleh syiekh Ibrahim Musa, demikian juga Maninjau. Meskitpun tidak mendapatkan perhatian dari penulis-penulis sejarah, tetapi dapat diduga bahwa usaha penyesuaian surau itu dilakukan juga oleh surau-surau lain yang lebih luas, karena kuatnya desakan pembaharuan.
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa sejak masa pertumbuhannya-khususnya di wilayah Minangkabau- madrasah-madrsah di Indonesia sudah memperhatikan tiga pola :
1.        Pola madrasah sebagai sekolah berciriakan Islam, dengan mata pelajaran yang diajarkan lebih didominasi oleh bidang-bidang kajian umum, dan diberi tambahan mata pelajaran agama, sebagaimana diwakili oleh madrasah adabiyah.
2.        Pola madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam terpadu dengan mata pelajaran agama tetap dominan tetapi mata pelajaran umum juga diberikan, seperti yang ditawarkan oleh madrasah Diniyah Zainuddin Labai.
3.        Pola madrasah keagamaan dengan bidang-bidang ilmu uang diajarkan hampir sepenuhnya bersifat keagamaan, sebagai mana yang dikembangkan pada awalnya oleh madrasah surta tawalib.
                                                                                  
b.        Madrasah-madrasah di pulau jawa
            Perkemabangan madrasah di pulau jawa dalam banyak hal memiliki pola yang sama dengan perkembangan yang terjadi di Minangkabau. Sebagian madrasah-madrasah di Jawa lebih dekat denagn sistem persekolahan ala Belanda, sebagian lagi lebih dipengaruhi oleh perkembangan pembaharuan pendidikan Islam di timur tengah, dan sebagian lagi merupakan konvergensi antara sistem pendidikan pesantren dengan sistem madrasah atau sekolah modern. Tetapi, agak berbeda dengan di Mingangkabau, perkembangan madrasah di Jawa didukung oleh perkumpulan-perkumpulan keagamaan yang lebih massif seperti Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama, persatuan umat islam, dan perkumpulan-perkumpulan lain. Meskipun demikian, tetap saja perkembangan madrasah-madrasah itu dipelopori oleh tokoh-tokoh pembaharu termasuk KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari.[25]
Salah satu perkumpulan yang cukup massif dalam mendirikan madrasah adalah    l Muhammadiyah. Diantara sekolah dan madrasah muhammadiyah yang cukup berjasa dan didirikan pada masa penjajahan adalah Kweekschool Muhammadiyah, mu’allimin Muhammadiyah, Mu’allimat Muhammadiyah, HIS muhammadiyah, MULO Muhammadiyah, AMS Muhammadiyah, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan madrasah tsanawiyah/wustha Muhammadiyah.[26]
            Perkumpulan Nahdlatul Ulama juga tidak ketinggalan dalam perkembagan madrasah di pulau jawa. Dibawah pendirinya, KH. Hasyim Asy’ari, pola pendidikan madrasah berhasil diperkenalkan di lingkunagan pesantren tebu Irengg jombang jawa timur. Pesantren ini didirikan pada tahun 1899. Madrasah ini juga dikenal dengan sebutan madrasah salafiyah.[27]

Meskipun tetap mempertahankan cirri-ciri keagamaannya, sebagaimana layaknya pesantren di nusantara, pada tahun 1919 pesantren ini mengalami pembaharuan. Pengajaran yang semula dilaksanakan dengan hanya sistem sorogan dan bandungan ditingkatkan dan memasukkan sistem berkelas, yang dikenal dengan sistem madrasah. Dalam perbandingan dangan perkembangan yang tejadi di minagkabau, apa yang terjadi di tebu ireng ini agaknya hampir mirip sama dengan yang terjadi di Sumatra tawalib. Diantara bidang umum yang dimasukkan dalam kurikulum di madraah ini adalah membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu, sejarah Indonesia, dan ilmu hitung.[28]
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan pola dan variasi madrasah tidak dapat keluar dari tiga format besar dasar :
1.        Madrasah yang menyerupai sekolah Belanda
2.        Madrasah yang menggabungkan secara lebih seimbang antara muatan-muatan keagamaan dan non-keagamaan.
3.        Madrasah diniah (keagamaan) yang lebih menekankan pada muatan-muatan keagamaan dan menambahkan muatan-muatan umum secara terbatas.[29]


BAB III
PENUTUP DAN KESIMPULAN
Kesimpulan bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan islam yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik generasi islam dan sudah ada sejak zaman dahulu,madrasah juga berbeda dengan sekolah umum dari segk muatannya tentang agama .

 DAFTAR PUSTAKA

1.      Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan  Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 50
     
2.      Abu Luwis al-Yasu'I, al-Munjid Fi al-LughahWa al-Munjid Fi al-A'lam, Cet.-23, Dar al-Masyriq, Beirut, tt, h. 221.
                                                                          
3.      W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 889

4.      Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 161.

5.      Sri Haningsih.Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia.  El-Tarbawi jurnal pendidikan  NO. 1. VOL. I. 2008 hal:32

6.      Djamaluddin & Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam  (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal: 23
7.      Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 110
8.      Dr. H. Abuddin Nata, MA, pemikiran para tokoh pendidikan islam, Jakarta : rajawali pers, Hlm.
9.      Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 101
10.  Samsul nizar, sejarah dan pergolakan pemikiran pendidikan islam, cet 1, 2005, hlm 13




[1] ) Djamaluddin & Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam  (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal: 23.
[2] ) Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan  Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 50
[3] ) Abu Luwis al-Yasu'I, al-Munjid Fi al-LughahWa al-Munjid Fi al-A'lam, Cet.-23, Dar al-Masyriq, Beirut, tt, h. 221.
[4] ) W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 889.
[5] ) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 161.
[6] ) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 68.

[7] Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 258.
[8] Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 213
[9] Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 101
[10] Samsul nizar, sejarah dan pergolakan pemikiran pendidikan islam, cet 1, 2005, hlm 13
[11] Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 266
[12] ) Sri Haningsih.Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia.  El-Tarbawi jurnal pendidikan  NO. 1. VOL. I. 2008hal:32
[13] Drs Hasbullah, sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1996, cet 2. Hlm. 163
[14] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 82
[15] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 83
[16] Drs Hasbullah, sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1996, cet 2. Hlm. 160-163
[17] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1. Hlm. 99
[18] Dr. H. Abuddin Nata, MA, pemikiran para tokoh pendidikan islam, Jakarta : rajawali pers, Hlm. 158
[19] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.  Hlm. 101
[20] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 102
[21] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 103
[22] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 103
[23] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 104
[24] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 105
[25] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 106
[26] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 109
[27]Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1., hlm. 110
[28] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 110
[29] Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 110

0 komentar:

Posting Komentar