Oleh:
Achmad Alwasim
M Yusuf Qardlawi
PENDAHULUAN
Lembaga
pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak agama Islam berkembang di
Indonesia. Madrasah itu tumbuh dan berkembang dari bawah, dalam arti masyarakat
(umat) yang didasari oleh tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran Islam kepada
generasi penerus. Oleh karena itu madrasah pada waktu itu lebih ditekankan pada
pendalaman ilmu-ilmu Islam.[1]
Kemudian posisi ilmu umum terus
menguasai searah perkembangan kehidupan umat Islam dan masyarakat Indonesia.
Madrasah itu kini disebut sekolah umum berciri khas agama, di mana ilmu agama
hanya menjadi bagian kecil kurikulum lembaga ini.Kemudian dalam makalah ini,
kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang pertumbuhan madrasah .
BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH PERTUMBUHAN MADRASAH
A. Madrasah Sebagai Lembaga
Pendidikan Islam
1. Pengertian Madrasah
Kata madrasah dalam bahasa Arab
berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran.[2] Madrsah Dari akar kata
"darasa" juga bisa diturunkan kata "midras" yang mempunyai
arti "buku yang dipelajari" atau "tempat belajar"; kata
"al-midras" juga diartikan sebagai "rumah untuk mempelajari
kitabTaurat".[3]
Dalam bahasa Indonesia madrasah
disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan
memberi pengajaran.[4]
Dari pengertian di atas maka
jelaslah bahwa madrasah adalah wadah atau tempat belajar ilmu-imu keislaman dan
ilmu pengetahuan keahlian lainnya yang berkembang pada zamannya. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa istilah madrasah bersumber dari Islam itu
sendiri.
2. Latar Belakang madrasah
secara umum
Madrasah mulai didirikan dan
berkembang pada abad ke 5 H atau abad ke-10 atau ke-11 M. pada masa itu ajaran
agama Islam telah berkembang secara luas dalam berbagai macam bidang ilmu
pengetahuan, dengan berbagai macam mazhab atau pemikirannya. Pembagian bidang
ilmu pengetahuan tersebut bukan saja meliputi ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
al-Qur’an dan hadis, seperti ilmu-ilmu al-Qur’an, hadits, fiqh, ilmu kalam,
maupun ilmu tasawwuf tetapi juga bidang-bidang filsafat, astronomi, kedokteran,
matematika dan berbagai bidang ilmu-ilmu alam dan kemasyarakatan.[5]
Aliran-aliran yang timbul akibat
dari perkembangan tersebut saling berebutan pengaruh di kalangan umat Islam,
dan berusaha mengembangkan aliran dan mazhabnya masing-masing. Maka
terbentuklah madrasah-madrasah dalam pengertian kelompok pikiran, mazhab atau
aliran. Itulah sebabnya sebahagian besar madrasah didirikan pada masa itu
dihubungkan dengan nama-nama mazhab yang masyhur pada masanya, misalnya
madrasah Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah atau Hanbaliyah.[6]
Berdasarkan dengan keterangan di
atas, jelaslah bahwa penggunaan istilah madrasah, sebagai lembaga pendidikan
Islam maupun sebagai aliran atau mazhab bukanlah sejak awal perkembangan Islam,
tetapi muncul setelah Islam berkembang luas dan telah menerima pengaruh dari
luar sehingga terjadilah perkembangan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan
dengan berbagai macam aliran dan mazhabnya.
Pada awal perkembangan Islam,
terdapat dua jenis lembaga pendidikan dan pengajaran,
yaitu kuttab yang mengajarkan cara menulis dan membaca al-Qur’an,
serta dasar-dasar pokok ajaran Islam kepada anak-anak yang merupakan pendidikan
tingkat dasar. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tingkat pendidikan lanjutan
pada masa itu yang hanya diikuti oleh orang-orang dewasa. Dari masjid-masjid
ini, lahirlah ulama-ulama besar yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan
Islam, dan dari sini pulalah timbulnya aliran-aliran atau mazhab-mazhab dalam
berbagai ilmu pengetahuan, yang waktu itu dikenal dengan istilah madrasah.
Kegiatan para ulama dalam mengembangkan ajaran Islam di tengah-tengah
masyarakat Islam maju dengan pesatnya, bahkan dari satu periode ke periode
berikutnya semakin meningkat.
Untuk menampung kegiatan khalaqah
yang semakin banyak, sejalan dengan meningkatnya jumlah pelajaran dan bidang
ilmu pengetahuan yang diajarkan, maka dibangunlah ruangan-ruangan khusus untuk kegiatan
khalaqah atau pengajian
tersebut di sekitar masjid.
Di samping dibangun pula asrama khusus untuk
guru dan pelajar, sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan belajar mengajar
setiap hari secara teratur, yang disebut dengan zawiyah atau madrasah
yang pada mulanya hanya dibangun di sekitar masjid, tetapi pada perkembangan
selanjutnya banyak dibangun secara sendiri.
Pada hakikatnya timbulnya
madrasah-madrasah di dunia Islam merupakan usaha pengembangan dan penyempurnaan
kegiatan proses belajar mengajar dalam upaya untuk menampung pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan jumlah pelajar yang semakin meningkat dan
bertambah setiap tahun ajaran.Sementara itu, madrasah boleh dikatakan sebagai
fenomena baru dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, yang
kehadirannya sekitar permulaan abad ke-20. Namun dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pengajarannya masih belum punya keseragaman antara daerah yang
satu dengan daerah yang lain, terutama sekali menyangkut kurikulum dan rencana
pelajaran. Usaha ke arah penyatuan dan penyeragaman sistem tersebut, baru
dirintis sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka. Dan pada perkembangannya
madrasah terbagi dalam jenjang-jenjang pendidikan; Madrasah Ibtidaiyah,
Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.
3.
Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Madrasah
Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang seluk beluk serta
pekembangan madrasah, pemakalah merasa perlu memahas secara singkat tentang
lembaga pendidikan yang lahir sebelum adanya madrasah. Hal ini dimaksudkan agar
adanya gambaran tentang corak pendidikan yang terjadi di dunia Islam.
1.
Darul Arqam
Islam mengenal lembaga pendidikan atau pusat pendidikan semenjak
detik-detik awal turunnya wahyu kepada nabi Muhammad SAW. Rumah Arqam bin abil-Arqam
merupakan lembaga pendidikan pertama atau bisa disebut Darul Arqam. Guru agung
yang pertama, yaitu nabi Muhammad SAW
mengumpulkan sekumpulan kecil pengiku-pengikutnya yang percaya kepadanya secara
diam-diam. Di rumah inilah beliau mengajar kumpulan kecil ini, yaitu
mengajarkan al-Qur’an yang diturunkan melalui malaikat Jibril.[7]
2.
Shuffah
Shuffah merupakan institusi pendidikan untuk aktivitas belajar pada
masa Rasulullah SAW. Ketika berada di kota madinah. Oleh rasulullah saw, ubaid
ibnu al-samit diangkat menjadi guru di suffah tersebut. Lembaga ini didirikan
sebagai tempat mempelajari, membaca, dan menghafal al-qur’an yang langsung
dibimbing oleh Nabi. Disamping itu, ada beberapa materi lainnya juga diajarkan
antara lain ; ilmu dasar, berhitung, kedokteran, dan ilmu fonetik.[8]
3.
Kuttab atau Maktab
Kuttab atau maktab, berasal dari kata dasar kataba yang berarti
menulis atau tempat menulis. Namun akhirnya memiliki pengertian sebagai lembaga
pendidikan dasar. Menurut sejarah, kuttab telah ada sejak pra islam.
Diperkirakan mulai dikembangkan oleh pendatang ke tanah Arab, yang terdiri dari
kaum Yahudi dan Nasrani sebagai cara mereka memperkuat taurat dan injil,
filsafat, jadal (ilmu debat) dan topic-topik yang berkenaan dengan agama
mereka.
Menurut Hasan Fahmi, al-kuttab merupakan lembaga pendidikan
pendidikan islam pertama. Tampaknya al-kuttab didirikan oleh orang Arab pada
masa Abu Bakar dan Umar, yaitu sesudah mereka melakukan penaklukan-penaklukan
dan sesudah mereka mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa yang telah maju.
Diawal perkembangan Islam, kuttab tersebut dilaksanakan di
rumah-rumah guru yang bersangkutan dan materi yang diajarkan semata-mata
menulis dan membaca (sya’ir-sya’ir) terkenal. Kemudian akhir abad 1H, mulai
timbul kuttab yang di samping memberikan pendidikan menulis dan membaca,
juga mengajarkan membaca al-Qur’an dan
pokok ajaran agama.[9]
4.
Masjid
Era madinah merupakan proses awal berdirinya pendidikan masjid,
terutama setelah Rasulullah mendirikan masjid Quba dann beberapa masjid lainnya.
Di masjid, seluruh kegiatan ummat difokuskan, termasuk pendidikan. Majlis
pendidikan yang dilakukan rasulullah bersama sahabat di masjid dilakukan dengan
system pengajian halaqah. Namun dalam perkembangannya kemudian dikalangan ummat
Islam tumbuh semangat untuk menuntut ilmu dan memotivasi mereka mengantarkan
anak-anaknya untuk memproleh pendidikan di masjid sebagai lembaga pendidikan
menengah setelah kuttab.[10]
5.
Ribath
Menurut pengertian yang diberikan Al-Marqrizi yang dimaksudkan
dengan ar-ribath ialah rumah-rumah yang sufi dan tempat tinggal mereka yang
didiami oleh sejumlah yabng terbatas dari fuqara yang mengasingkan diri yang
tidak mempunyai keluarga dan mempersiapkan diri mereka untuk belajar dan
beribadat semata-mata.
Disana telah didirikan pula ar-ribath yang dikhususkan bagi para
wanita, dimana mereka bertempat tinggal, beribadat, dan megajarkan pelajaran
agama di dalamnya. Di sana telah tedapat pula ribath yang dikenal denagn nama
ribath al-Baghdadiyyah yang dibangun pada tahun 684 H untuk seorang syeikh
wanita yang bernama syeikh Zainab al-Baghdadiyyah. Beliau bertempat tinggal
bersama-sama dengan sejumlah wanita yang baik-baik yang mengasingkan diri untuk
nbelajar dan beribadat.
6.
Zawiyyah
Zawiyyah dibangun untuk orang-orang tasawwuf yang fakir supaya
mereka dapat belajar dan beribadat. Contohnya seorang raja dari al-Mamalik
membangun sebuah zawiyyah al-jmairah diabad XIII M dan ditempatkan di dalamnya
beberapa orang sufi dan fakir. Dan kadang-kadang pula zawiyyah ini didirikan
untuk seorang syeikh yang termasyhur yang bertugas untuk menyiarkan ilmu
pengetahuan dan mengasingkan diri untuk beribadat. Pada umumnya zawiyyah itu
dikenal dengan nama seorang syeikh yang terkenal dengan ilmunya dan takwanya.[11]
4. Eksistensi Madrasah dan Sekolah Islam
Madrasah
sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia relatif lebih muda dibanding pesantren. Lahir pada abad 20
dengan munculnya madrasah Manbaul Ulum
Kerajaan Surakarta tahun 1905 dan Sekolah
Adabiyah yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad
di Sumatera Barat tahun 1909. Madrasah berdiri atas
inisiatif
dan realisasi dari pembaharuan sistem pendidikan Islam yang telah ada. Menarik untuk diamati mengapa sistem
pendidikan pesantren sendiri justru tidak
bersifat statis, tetapi selalu mengalami pertumbuhan
seiring dengan perubahan masyarakat yang terjadi.Demikian juga madrasah dan
sekolah Islam di Indonesia selalu melakukan
terobosan-terobosan guna mempertahankan eksitensinya
(Mas’ud
Abdurrahman, 2002: 226) .
Pembaharuan
tersebut menurut Mastuhu, meliputi tiga hal,yaitu: (1)Usaha menyempurnakan
sistem pendidikan pesantren, (2)
Penyesuaian dengan sistem pendidikan Barat, dan (3) Upayamenjembatani antara
sistem pendidikan tradisional pesantren dansistem pendidikan Barat..
Madrasah
sebagai lembaga pendidikan Islam, kini ditempatkan sebagai pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan
nasional. Di dalam salah satu diktum surat
keputusan bersama (SKB) tiga menteri (Menteri
Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk
meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah
agar lulusan dari madrasah dapat
melanjutkan
ke sekolah-sekolah umum, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi (Mastuhu,
1999: 226)[12]
B. Pertumbuhan
Madrasah di Indonesia
1.
Latar Belakang Lahirnya
Tampaknya kelahiran madrasah sebagai lembaga pedidikan Islam
setidak-tidaknya mempunyai latar belakang, diantaranya :
Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan
Islam.[13]
Dalam tradisi Islam di Indonesia, kemunculan
dan perkembangan madrasah tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembaharuan Islam
yang diawali oleh usaha sejumlah tokoh intlektual agama dan kemudian
dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, baik di Jawa, Sumatera dan
Kalimantan. Bagi kalangan pembaharu, pendidikan agaknya senantiasa dipandang
sebagai aspek strategis dalam membentuk pangangan keislaman masyarakat.[14]
Munculnya gerakan
pembaharuan di Indonesia pada awal abad 20 dilatar belakangi oleh semangat yang
kompleks. Dengan menggunakan rentang waktu antara 1900 sampai dengan 1945,
Karel A Steenbrink mangidentifikasi empat faktor yang mendorng gerakan
pembaharuan Islam di Indonesia awal abad 20, antara lain ;
1.
Faktor keinginan untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits
2.
Faktor semangat nasionalisme dalam melawan penjajah
3.
Memperkuat basis gerakan social, ekonomi, budaya, dan politik
4.
Faktor pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.
Dalam hal ini, ia member
catatan bahwa keempat faktor itu tidak secara terpadu medorong gerakan
pembaharuan, melainkan bahwa gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul di
Indonesia disebabkan oleh salah satu atau dua faktor tersebut. Dengan kata
lain, menurut steenbrink, gerakan-gerakan pembaharuan Islam di Indonesia
memiliki alasan atau motif yang berbeda-beda.[15]
a.
Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren kearah suatu
pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama
dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan
ijazah.
b.
Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri
yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
c.
Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendididkan
teradisional yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari
hasil akulturasi.[16]
2. Madrasah
pada masa pertumbuhan
Sebelum abad 20, tradisi pendidikan Islam di Indonesia agaknya
tidak mengenal istilah madrasah, kecuali pengajian al-Qur’an, masjid,
pesantren, surau, langgar dan tajug.
Dalam sistem pendidikan yang disebut diatas memang tidak dilakukan pengkelasan
dalam pengertian modern, tetapi dalam perakteknya tetap ada penjenjangan yang
biasanya diatur berdasarkan tingkatan kitab yang diajarkan. Mahmud Yunus
memasukkan ke dalam madrasah kurun perumbuhan ini antara lain
1.
Adabiah school (1909) dan diniah school labia al-yunusiy (1915) di
sumatera barat,
2.
madrasah Nahdlatul ulama di Jawa Timur, madrasah Muhammadiyah di
Yogyakarta, madrasah tasywiq thullab di jawa tengah, madrasah persatuan ummat
islam di jawa barat.
3.
madrasah jam’iyat kheir di
Jakarta,
4.
madrasah amirah islamiah di Sulawesi,
5.
dan madrasah assulthaniyyah di Kalimantan.
Salah satu ciri penting dari madrasah-madrasah periode pertumbuhan
adalah bahwa eksitensinya antara satu sama lain masih terpisah-pisah. Usaha
mendirikan masrasah masih berifat pribadi atau organisasi dalam pengertian
sempit. Madrasah-madrasah di padang tidak memiliki hubungan maupun tidak
langsung dengan madrasah-madrasah di
jawa. Tidak ada pengaturan yang bersifat umum dan mengikat mengenai bentuk kelembagaan,
struktur managemen, dan kurikulumnya. Seperti diisyaratkan oleh steenbrink,
usaha pendirian madrasah itu bertolak dari motif masing-masing, namun semuanya
mengarah pada penigkatan peran umat islam. Dengan demikian uniformitas pada
masdrasah-madrasah itu hanya dapat dilihat dalam hal sistem pendidikannya yang
berkelas dan isi pendidikannya yang memberi perhatian pada ilmu-ilmu agama.[17] Disini
pemakalah hanya akan memaparkan gambaran tentang madrasah-madrasah yang tumbuh
di minangkabau dan jawa :
a.
Beberapa madrasah di Minangkabau
1.
Madrasah adabiah.
Madrasah ini adalah
madrasah yang tumbuh pada awal pembaharuan yaitu tahun 1907. Tokoh pendirinya
adalah Abdullah Ahmad, beliau adalah seorang pelopor pembaharuan di wilayah
minagkabau. Beliau adalah seorang yang haus akan ilmu, hal itu terbukti ketika
beliau berusia tujuh belas tahun (1895), beliau berangkat ke Makkah untuk
menunaikan ibadah haji, sambil melanjutkan pelajaran agama pada syaikh Ahmad
Khatib, seorang ulama asal Minagkabau yang bermukim di Makkah, serta kepada
beberapa ulama lainnya di Makkah. Salah satu pertimbangan dikirimnya Abdullah
Ahmad ke Mekkah adalah karena minagkabau pada saat itu belum ada sekolah agama
yang teratur baik, sementara Makkah pada saat itu terkenal sebagai pusat
penyebaran agama Islam, dan sudah banyak orang mingakabau yang bermukim di
sana.[18]
Pada awalnya madrasah
adabiyah didirikan di padang panjang, halaman beliau sendiri. Sistem pendidikan
madrasah ini sangat berbeda dari cara pendidikan di surau. Secara konsisten,
Abdullah Ahmad menyelenggarakan madrasah itu dengan mengajarkan ilmu-ilmu agama
dan ditambah dengan pelajaran membaca dan menulis latin serta ilmu hitung. Jika
dalam pendidikan di surau tidak dilakukan secara per kelas, maka dalam rencana
pendidikan di madrasah Adabiyah diatur berdasarkan kelas.[19]
Mata pelajaran agama
dalam kurikulum madrasah ini hanya diberikan dua kali seminggu,selebihnya untuk
mata pelajaran umum dan keterampilan membaca, menulis dan berhitung. Karena
kualitas pendidikan dan kurikulum pengajarannya, madrasah ini memperoleh
pengakuan dari pemerintah Belanda pada tahun 1915. Peristiwa ini berarti, bahwa
madrasah ini merupakan sekolah pertama setingkat HIS yang didirikan oleh
kalangan Islam Minangkabau, dan bahkan mungkin juga pertama di Indonesia.
Mahmud Yunus menyebut madrasah ini adalah HIS Adabiyah. Namun demikian, berbeda
dengan HIS yang terbatas bagi kalangan bengsawan dan pegawai, madrasah
Adabiyyah terbuka bagi umum sejauh dapat membayar uang pendidikan yang tidak
begitu mahal. Oleh karena itu, kalangan pedagang sangat suka dengan madrasah
ini sehingga mengirimkan anak-anak mereka untuk bersekolah.[20]
2.
Madrasah diniyah
Madrasah ini didirikan
oleh Zainuddin Labai el-Yunusiy (1890-1924) pada tanggal 10 oktober 1915. Madrasah ini dilakukan secara perkelas dengan
susunan pelajaran yang terpadu antara ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu umum.
Dilaksanakan pada sore hari, madrasah ini pertama-tama mengajarkan dasar-dasar
bahasa Arab kemudian melatih pembacaan al-Qur’an. Pengetahuan umum yang
diberikan terdiri dari sejarah dan ilmu bumi. Secata umum, madrasah ini agaknya
lebih menekankan pada penguasaan bahasa Arab, sehingga pada kelas yang lebih
tinggi teks-teks untuk pengetahuan bahasa umum pun menggunakan buku-buku
berbahasa Arab.[21]
Terdapat perbedaan
antara Madrasah diniyah dengan madrasah Adabiyah. Madrasah diniyah agaknya
merupakan bentuk pendidikan islam yang sejalan dengan pola yang ditawarkan
gerakan pembaharuaan di timur tengah, sedangkan madrasah adabiyah lebih
merupakan sekolah Belanda yang ditambah dengan materi pendidikan agama.[22]
Madrasah-madrasah
diniyah di Minangkabau secara umum megajarkan juga mata pelajaran agama, yang
biasa disampaikan di surau-surau, dan pelajaran umum. Dalam hal mata pelajaran
agama, meskipun bidang kajiannya tidak berbeda dengan pelajaran di surau,
tetapi buku-buku pelajarannya mengalami modifiikasi. Teks-teks baru dari Mesir
dijadikan pedoman meskipun untuk kelas permulaan biasanya disajikan dalam
bentuk tejemahan atau ringaksan dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab klasik seperti
al-jurmiyah dan qawaid al-lughah ‘Arabiyah, karya Mahmud Yunus yang disajika
dalam sistem modern. Pada kelas-kelas yang lebih tinggi, untuk hampir semua
mata pelajaran digunakan kitab-kitab modern terbitan Mesir atau Beirut.[23]
3.
Madrasah Diniyah Putri
Madrasah ini didirikan
oleh Rangkayo Rahmah al-Yunisiah, saudara putrid Zainuddin Labai. Madrasah ini
berdiri pada dasarnya sebagai usaha memberikan kesempatan yang lebih luas
kepada kalangan pelajar putrid. Hal ini tentu merupakan kredit tersendiri bagi
madrasah rahmah al-yunusiah ini. Madrasah ini terdiri dari enam kelas dam
mengikuti pila pengajarna dan komposisi kurikulum yang sama dengan madrash
diniyah pada umumnya. Mata pelajaran yang diberikan antara lain Fiqh, Tafsir,
tauhid, hikmah tasyri’, adab (akhlaq), hadits, nahwu, saraf, ilmu bumi, usul
fiqh, ‘arudh, tarikh islam, menulis arab, keputrian, pendidikan rumah tangga,
bahasa inggris, belanda, ilmu bumi, dan sebagainya.[24]
4.
Madrasah Sumatra tawalib
Madrasah ini dipelopori
oleh abdul karim amrullah yang dikenal dengan haju rasal. Pada awalnya sumatera
tawalib merupakan surau, namun kemudian (yang pertama) memperkenalkan sistem
kelas, dan pada tahun 1911 diubah menjadi sumarta tawalib. Di parabek (bukit
tinggi) pada tahun 1921, berdiri pula sumatera rawalib dengan nama yang sama
dipimpi oleh syiekh Ibrahim Musa, demikian juga Maninjau. Meskitpun tidak
mendapatkan perhatian dari penulis-penulis sejarah, tetapi dapat diduga bahwa
usaha penyesuaian surau itu dilakukan juga oleh surau-surau lain yang lebih
luas, karena kuatnya desakan pembaharuan.
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa sejak masa
pertumbuhannya-khususnya di wilayah Minangkabau- madrasah-madrsah di Indonesia
sudah memperhatikan tiga pola :
1.
Pola madrasah sebagai sekolah berciriakan Islam, dengan mata
pelajaran yang diajarkan lebih didominasi oleh bidang-bidang kajian umum, dan
diberi tambahan mata pelajaran agama, sebagaimana diwakili oleh madrasah
adabiyah.
2.
Pola madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam terpadu dengan mata
pelajaran agama tetap dominan tetapi mata pelajaran umum juga diberikan,
seperti yang ditawarkan oleh madrasah Diniyah Zainuddin Labai.
3.
Pola madrasah keagamaan dengan bidang-bidang ilmu uang diajarkan
hampir sepenuhnya bersifat keagamaan, sebagai mana yang dikembangkan pada
awalnya oleh madrasah surta tawalib.
b.
Madrasah-madrasah di pulau jawa
Perkemabangan
madrasah di pulau jawa dalam banyak hal memiliki pola yang sama dengan
perkembangan yang terjadi di Minangkabau. Sebagian madrasah-madrasah di Jawa
lebih dekat denagn sistem persekolahan ala Belanda, sebagian lagi lebih
dipengaruhi oleh perkembangan pembaharuan pendidikan Islam di timur tengah, dan
sebagian lagi merupakan konvergensi antara sistem pendidikan pesantren dengan
sistem madrasah atau sekolah modern. Tetapi, agak berbeda dengan di Mingangkabau,
perkembangan madrasah di Jawa didukung oleh perkumpulan-perkumpulan keagamaan
yang lebih massif seperti Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama, persatuan umat islam,
dan perkumpulan-perkumpulan lain. Meskipun demikian, tetap saja perkembangan
madrasah-madrasah itu dipelopori oleh tokoh-tokoh pembaharu termasuk KH. Ahmad
Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari.[25]
Salah satu perkumpulan yang cukup
massif dalam mendirikan madrasah adalah l Muhammadiyah.
Diantara sekolah dan madrasah muhammadiyah yang cukup berjasa dan didirikan
pada masa penjajahan adalah Kweekschool Muhammadiyah, mu’allimin Muhammadiyah,
Mu’allimat Muhammadiyah, HIS muhammadiyah, MULO Muhammadiyah, AMS Muhammadiyah,
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dan madrasah tsanawiyah/wustha Muhammadiyah.[26]
Perkumpulan
Nahdlatul Ulama juga tidak ketinggalan dalam perkembagan madrasah di pulau
jawa. Dibawah pendirinya, KH. Hasyim Asy’ari, pola pendidikan madrasah berhasil
diperkenalkan di lingkunagan pesantren tebu Irengg jombang jawa timur.
Pesantren ini didirikan pada tahun 1899. Madrasah ini juga dikenal dengan
sebutan madrasah salafiyah.[27]
Meskipun tetap
mempertahankan cirri-ciri keagamaannya, sebagaimana layaknya pesantren di
nusantara, pada tahun 1919 pesantren ini mengalami pembaharuan. Pengajaran yang
semula dilaksanakan dengan hanya sistem sorogan dan bandungan ditingkatkan dan
memasukkan sistem berkelas, yang dikenal dengan sistem madrasah. Dalam
perbandingan dangan perkembangan yang tejadi di minagkabau, apa yang terjadi di
tebu ireng ini agaknya hampir mirip sama dengan yang terjadi di Sumatra
tawalib. Diantara bidang umum yang dimasukkan dalam kurikulum di madraah ini
adalah membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu, sejarah
Indonesia, dan ilmu hitung.[28]
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan pola dan variasi
madrasah tidak dapat keluar dari tiga format besar dasar :
1.
Madrasah yang menyerupai sekolah Belanda
2.
Madrasah yang menggabungkan secara lebih seimbang antara
muatan-muatan keagamaan dan non-keagamaan.
3.
Madrasah diniah (keagamaan) yang lebih menekankan pada
muatan-muatan keagamaan dan menambahkan muatan-muatan umum secara terbatas.[29]
BAB III
PENUTUP DAN KESIMPULAN
Kesimpulan bahwa madrasah merupakan
lembaga pendidikan islam yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam
mendidik generasi islam dan sudah ada sejak zaman dahulu,madrasah juga berbeda
dengan sekolah umum dari segk muatannya tentang agama .
DAFTAR PUSTAKA
1.
Abuddin
Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2004), h. 50
2.
Abu Luwis
al-Yasu'I, al-Munjid Fi al-LughahWa al-Munjid Fi al-A'lam, Cet.-23,
Dar al-Masyriq, Beirut, tt, h. 221.
3.
W.J.S.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII;
Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 889
4.
Hasbullah, Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2001), h. 161.
5.
Sri
Haningsih.Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia. El-Tarbawi jurnal pendidikan NO. 1. VOL. I. 2008 hal:32
6.
Djamaluddin
& Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung:
Pustaka Setia, 1998), hal: 23
7. Dr H Maksum, madrasah
sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm.
110
8. Dr. H. Abuddin Nata, MA, pemikiran para tokoh pendidikan islam,
Jakarta : rajawali pers, Hlm.
9. Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm
101
10. Samsul nizar, sejarah dan pergolakan pemikiran pendidikan islam,
cet 1, 2005, hlm 13
[1] ) Djamaluddin & Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal: 23.
[2] ) Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 50
[3] ) Abu
Luwis al-Yasu'I, al-Munjid Fi al-LughahWa al-Munjid Fi al-A'lam, Cet.-23, Dar
al-Masyriq, Beirut, tt, h. 221.
[4] ) W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 889.
[5] ) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 161.
[6] ) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 68.
[7]
Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 258.
[8]
Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 213
[9]
Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 101
[10]
Samsul nizar, sejarah dan pergolakan pemikiran pendidikan islam, cet 1, 2005,
hlm 13
[11]
Suwito, et al, sejarah pendidikan islam, cet I, 2005, hlm 266
[12] ) Sri Haningsih.Peran Strategis
Pesantren, Madrasah dan Sekolah Islam di Indonesia. El-Tarbawi jurnal pendidikan NO. 1. VOL. I.
2008hal:32
[13]
Drs Hasbullah, sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo
Persada, 1996, cet 2. Hlm. 163
[14]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 82
[15]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana
ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 83
[16]
Drs Hasbullah, sejarah pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo
Persada, 1996, cet 2. Hlm. 160-163
[17]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1. Hlm. 99
[18]
Dr. H. Abuddin Nata, MA, pemikiran para tokoh pendidikan islam, Jakarta :
rajawali pers, Hlm. 158
[19]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1. Hlm. 101
[20]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 102
[21]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 103
[22]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 103
[23]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 104
[24]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.Hlm. 105
[25]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 106
[26]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 109
[27]Dr
H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos wacana
ilmu, 1999. Cet 1., hlm. 110
[28]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 110
[29]
Dr H Maksum, madrasah sejarah dan perkembangannya, Jakarta : logos
wacana ilmu, 1999. Cet 1.hlm. 110






0 komentar:
Posting Komentar