Minggu, 22 Juli 2012

Sahabatku, sedang apa kalian sekarang, sudahkah kalian MEMBACA ALQUR'AN hari ini

Sahabatku, sedang apa kalian sekarang, sudahkah kalian MEMBACA ALQUR'AN hari ini? Bacalah keistemewaan hamba2 ALLAH yg hidup bersama ALQUR'AN, HATI TENANG, DAMAI & BAHAGIA, "Ingatlah, hanya dg zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang.”. (Q.S Ar-Ra’d: 28). & seutama2 zikir adlh membaca Alqur'an. Meraih PERTOLONGAN HARI QIAMAT, ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pd hari kiamat nanti memberi syafaat bagi org yg membacanya.” (H. R. Muslim). Menjadi MANUSIA TERBAIK, ”Sebaik2 kalian adlh yg mempelajari al-Qur’an & yg mengajarkannya” (H.R. Bukhari). BERSAMA PARA MALAIKAT yg MULIA, ”Or yg pandai membaca al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yg mulia & terpuji. Adapun yg terbata-bata & sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim). Meraih KEDUDUKAN MULIA, ”Sesungguhnya Allah Swt meninggikan (derajat) ummat manusia ini dg Al-Qur’an & membinasakannya pula dg Al-Qur’an.” (H.R Muslim). DIBANGGAKAN ALLAH, ”Tdklah suatu kaum berkumpul dlm salah satu rumah Allah (masjid) u membaca Kitabullah (al-Qur’an) & mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mrk, mrk diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, & Allah menyebut nama2 mrk di hadapan para Malaikat yg ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim). SEPULUH KEBAIKAN, ”Brg siapa yg membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, & satu kebaikan akan dibalas dg sepuluh kali lipatnya. Aku tdk mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf.” (H.R at-Tirmizi), NGGA AKAN MALAS LAGI KAN!, SUBHANALLAH. moga jadi bensin penyemangat tuk santri dirumah.

BAGAIMANA SEJARAH ALQURAN KITA SEBAGAI SEORANG MUKMIN HARUS TAHU ?


Al-Qur’an dikumpulkan pada dua masa,yaitu masa Rasulullah SAW dan masa Khulafaur Rasyidin. Masing-masing tahap Kodifikasi ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Kata “Kodifikasi”, kadang diartikan menghafal dan mengeluarkan dari dada para sahabat. Kadang pula diartikan penulisan atau pencatatan pada shahaif dan daun-daun. Dan keduanya ini berlaku pada tahap Kodifikasi di zaman nabi sekaligus,yaitu :
1. Kodifikasi dalam dada, dengan cara menghafal dan mengekspresikannya.
2. Kodifikasi dalam tulisan, dengan cara menulis dan mengukirnya.
Kedua sistem Kodifikasi tersebut sangat sempurna penjagaan dan perhatian terhadap al-Qur’an al-Karim, baik penulisan dan pembukuan sebagai kitab Allah yang suci dan mukjizat Nabi Muhammad Saw yang abadi, yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab lainnya. Berikut ini akan kami jelaskan tahap Kodifikasi Al-Qur’an.

KODIFIKASI ALQURAN DALAM DADA


Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi yang ummi. Otomatis, maka himmah Nabi hanya tercurahkan untuk menghafal dan melahirkannya, agar ia dapat dihafal sebagaimana diturunkan kepadanya. Lantas beliau membacakannya kepada manusia agar mereka dapat hafal dan membacakannya. Telah maklum bahwa beliau adalah Nabi yang buta huruf yang diutus oleh Allah kepada bangsa Arab yang juga buta huruf. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah:2
Artinya : ”Dia yang mengutus kepada umat yang ummi (Arab) seorang rasul diantara mereka,yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka (dari kekafiran dan kelakuan yang tidak baik) dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka.” (QS.Al-Jumu’ah:2). (Ash-Shaabuuniy :94)
Sudah barang tentu, biasanya seorang yang buta huruf berpegang kepada orang yang hafal dan mengingatnya. Karena dia tidak bisa membaca atau menulis, maka bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an bangga dengan sifat kekhususannya, yaitu memiliki daya ingat yang kuat serta cepat menghafal,bahkan hatinya begitu terbuka. Rasulullah ingin sekali hendak mengumpulkan wahyu itu. Turunnya ayat itu oleh nabi ditunggu dengan kerinduan dan setelah turun oleh Nabi dipahami dan dihafalnya. Benarlah janji Allah yang berbunyi
“Sesungguhnya atas tanggung jawab kamilah megnumpulkannya (dalam dadamu) membuat kamu pandai membaca.(QS.75:17).

BAGAIMANA SEJARAH SINGKAT TURUNNYA ALQURAN?

Al-Qur’an diturunkan selama dua tahun lebih , proses penurunannya terkadang hanya turun satu ayat dan terkadang turun sampai sepuluh ayat. Tulisan-tulisan Al-qur’an pada maa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf. Susunan penulisan Al-Qur’an pun tidak menurut susunan nuzulnya, tetapi setiap ayat yang turun ditulis di tempat penulisan yang sesuai dengan petunjuk Nabi. Nabi tidak mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf karena ia senantisa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Pada masa Nabi Al-Qur’an masih berserakan pada kulit, tulang dan pelepah kurma, dengan demikian, abu bakar memerintahkan agar dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan ,surat-suratyang tersusun serta ditulis dengan sangat berhati-hati dan mencangkup tujuh huruf yang dengan itu Al-Qu’an diturunkan. Setelah itu Usman juga mengumpulkan Al-Qur’an ,
dengan cara menyalin dalam satu huruf diantara tujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin.Kodifikasi al-Qur’an pada masa Abu Bakar merupakan bentuk pemindahan dari pelepah-pelepah kurma, kepingan-kepingan batu, dan kulit-kulit binatang yang ditulis menjadi satu mushaf dengan ayat-ayat yang sudah tersusun. Dikumpulkannya al-Qur’an pada masa ini karena banyak para huffadz yang gugur dalam peperangan.
Sedangkan pada masa Utsman merupakan bentuk penyalinan dari mushaf yang telah ada pada masa Abu Bakar dan dikirim ke Negara-negara Islam. Disalinnya karena banyak perbedaan dalam membaca al-Qur’an. Penyempurnaan al-Qur’an terus berlangsung setelah penulisan al-Qur’an pada masa Utsman diantaranya penambahan-penambahan harakat (fathah, kasrah, dhammah) oleh al Duwali serta pembubuhan titik pada huruf al-Qur’an yang memiliki kemiripan bentuk oleh Yahya bin Ma’mur dan Nashr bin ‘Ashim, keduanya murid al-Duwali.
 

Penghafal Qur'an bisa masuk Universitas Hasanuddin

Editor | Minggu, 22 Juli 2012 - 16:54:08 WIB |
Penghafal Al-Quran Bisa Masuk Universitas Hasanuddin
Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,Universitas Hasanuddin membuka jalur penerimaan mahasiswa baru melalui penyaringan Prestasi Olahraga, Seni, dan Keilmuan (POSK) bagi calon mahasiswa baru yang memiliki prestasi di bidang-bidang tersebut.

Wakil Rektor III Universitas Hasanuddin, Nasaruddin Salam, mengatakan program tersebut sudah dibuka sejak tahun 2006. “Pada tahun 2006 pendaftarnya baru 13 orang, sedangkan untuk tahun ini pendaftarannya sudah mencapai 752 orang,” ujar Nasaruddin, Ahad, 22 Juli 2012.

Untuk tes jalur POSK pada tahun ini sudah dilaksanakan pada hari Rabu pekan lalu. Adapun pengumuman hasilnya sudah disampaikan pada hari Sabtu lalu.

Salah satu bakat atau prestasi yang bisa diterima pada jalur ini adalah penghafal Al-Quran. Andi Jaya, mahasiswa angkatan 2010 Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Unhas, merupakan salah seorang mahasiswa yang masuk ke Unhas melalui jalur tersebut.

Jaya, sapaan akrabnya, awalnya mengaku mendaftar untuk jurusan biologi. Di tempat pendaftaran ia menyetorkan sertifikat lomba ilmu biologi yang dimilikinya. Oleh penguji pada waktu itu, Jaya kemudian ditanya apakah ia mempunyai kemampuan lain. Jaya pun mengatakan bahwa dirinya bisa menghafal Al-Quran sebanyak 1 juz. Setelah diuji, pada saat pengumuman ia pun akhirnya dinyatakan lulus di Jurusan Sastra Arab.

Jaya mengaku dirinya tidak menghafal Al-Quran khusus untuk diterima di Unhas. Lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Binamu, Kabupaten Jeneponto, ini mengatakan motivasinya menghafal Al-Quran adalah karena menurutnya sangat banyak keutamaan yang dimiliki oleh para penghafal Al-Quran.

Selain itu dia mengaku senang mengisi waktu luang dengan membaca dan menghafalkan Al-Quran. Saat ini Jaya aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus-Mahasiswa Pencinta Musala (LDK-MPM) Unhas dan masih aktif menghafal Al-Quran. Hafalannya saat ini sudah mencapai 3 juz.

Menurut Nasaruddin Salam, jalur POSK tersebut memang diperuntukkan mereka yang punya prestasi di bidang non-akademik. Pihaknya selama ini bekerja sama dengan berbagai pesantren yang ada untuk mengirimkan santrinya mendaftar ke Unhas melalui jalur POSK tersebut.

“Salah satu rencana strategis Unhas adalah menjaring orang-orang yang mempunyai prestasi dan potensi khusus yang kebetulan bersekolah di sekolah-sekolah yang tidak terakreditasi. Seperti di pesantren yang kadang-kadang alumninya tidak bisa ikut SNMPTN karena tidak ikut ujian nasional, mereka tetap bisa masuk Unhas melalui jalur ini,” ujarnya.

Nasaruddin berujar pihaknya punya misi tersendiri dengan menerima penghafal Al-Quran. “Kami harapkan para penghafal Al-Quran bisa menularkan spirit religiusnya kepada yang lain sehingga bisa menyebarkan nilai-nilai positif di kampus,” kata Nasaruddin. Selain itu, menurutnya, hal itu tentunya sejalan dengan misi Unhas yang ingin menjadi kampus yang berlandaskan pendidikan karakter MARITIM (Manusiawi, Arif, Religius, Integritas, Tangguh, Inovatif, dan Mandiri).(fq/tempo)