Minggu, 06 November 2011
Temu Tokoh Ustadz Irham
LAPORAN KEGIATAN
SEMINAR “TEMU TOKOH”
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Motivasi yang kurang sangat mempengaruhi semangat dalam menghafal Al-Qur’an. Mengundang tokoh adalah hal yang sangat penting untuk menunjang semangat santri yang kurang semangat dalam menghafal Qur’an.
Tujuan Penyusunan Laporan
Penyusunan laporan ini bertujuan :
1. Memaparkan hasil seminar “Temu Tokoh” kali ini.
2. Hasil seminar “Temu Tokoh” dapat dijadikan pedoman untuk peningkatan kesemangatan santri dalam menghafal Qur’an.
DESKRIPSI KEGIATAN
Nama Kegiatan
Seminar “Temu Tokoh” bersama Ustadz Irham tonjaran
‘ Juara tiga tafsir di maroko dan juara 6 dimesir’
Landasan Kegiatan
1. Manual Mutu Kafila International Islamic School Jakarta
2. Prosedur Kerja Bidang Al Qur’an
3. Sasaran mutu Bidang Al Qur’an Semester 2 2010/2011
Bentuk Kegiatan
Seminar /temu tokoh
Waktu dan Tempat Kegiatan
Waktu : Senin , 16 mei 2011
Tempat :Kafila International Islamic School
Estimasi dana :
Hadiah pembicara :Rp 150.000.00
Buah Anggur ½ kg :Rp 22.000.00
Jeruk ½ kg :Rp 8000.00
Apel :Rp 10.000.00
Roti brownis :Rp 12.000.00
Aqua botol :Rp 8000
Nasi box 3 bungkus :Rp 12000x 3= 36.000.00
Total keseluruhan :246.000.00
SUSUNAN KEPANITIAAN
Penanggung jawab : Wakil Kepala Sekolah Bidang Al Qur’an
Koordinator Pelaksana : Ustad Okri Nofrizal
Koordinator Opkiis :Ja’far Siddiq
Sie konsumsi :Tri Surahman
Sie Acara :Reno Abdurrahman
Sie ibadah :Saifullah Mahyudin
Peserta Kegiatan
Tingkat SMP dan SMA:
SELURUH SANTRI KIIS DAN PARA MUSYRIF
LAPORAN KEGIATAN
Ustadz irham berbicara tentang motivasi- motivasi menghafal Qur’an dan pengalaman beliau dalam mengikuti lomba di maroko dan mesir dan pengalaman baliau dalam proses menghafal.
Ustadz Irham sedang memberikan motivasi-motivasi dan berbagai macam tips dan trik untuk menghafal Al-Quran. Dan diantara tips beliau, bahwa fasilitas itu bukanlah segalanya karena beliau mengahafal di bawah pencahayaan lilin ketika itu tapi ternyata bisa, bahkan beliau bisa juara juga. Ada pengalaman beliau yang sangat bermanfaat untuk para santri, ternyata, kesombongan dapat menjadikan lupa terhadap hafalan. Ini kisah beliau ketika soal pertama, kedua, beliau merasa mudah dan mengatakan dalam hati, wah, saya akan juara, nih! Ternyata ketika di soal yang ketiga, banyak sekali ketokan dari dewan hakim menunjukkan bahwa beliau salah. Itulah makanya kita tidak boleh sombong. Dan yang kedua, pelajaran beliau adalah : jangan grogi, ataupun kurang PD, sehingga akan menjadikan lupa dalam menghafal.
Ustadz irham sedang photo bersama dengan para peserta kelas dua
Ustadz irham sedang photo bersama dengan kelas satu
Ustadz Irham sedang menceritakan perjalanannya menghafal Al-Qur’an mulai dari pesantren pelosok hingga menjadi pemenang ketiga MTQ bidang tafsir dan hafalan di Maroko.
Demikianlah berita ini kami muat supaya ada manfaatnya tetap semangat untuk menghafal oke,yeees
Kamis, 11 Agustus 2011
Gerakan menghafal Al-Qur'an
AlQuran adalah kitab paling tinggi dan paling mulia yang pernah ada di bumi, ia adalah Kalamullah, jejak Allah yang paling nyata di bumi ini. Ia adalah surat cinta terpanjang yang diturunkan oleh kurir paling agung dalam sejarah ; malaikat Jibril yang dbacakan pertama kali kepada manusia sempurna penutup para Nabi ; Muhammad saw untuk diajarkan kepada manusia seluruhnya.
AlQuran adalah mukzizat yang dibawa nabi Muhammad SAW misi utamanya adalah merubah para pembacanya. Melembutkan kegarangan, menguatkan yang ragu, menajamkan hati yang buram, mengasah kecerdasan, mendorong sebuah gerakan besar, mencipta figur pemimpin dan ummat berkualitas unggul. Pemimpin dan rakyat seperti inilah yang mampu menjadi pembaharu zaman dan menorehkan kehidupan yang ideal. Dan masa indah itu pernah terwujud, sejarah mengabadikannya, mencatatnya dalam rangkaian panjang perjalanan manusia, tak mungkin pudar walau orang-orang yang memusuhi Islam berusaha mengaburkan dan lalu hendak menghapus fakta ini.
AlQuran telah turun di tengah masyarakat gurun pasir yang kejahilannya sangat terkenal, hobi berperang antar mereka sendiri, sering melakukan penyerangan di perbatasan-perbatasan Jazirah Arab, punya kebiasaan menanam hidup-hidup bayi perempuan, perjudian, dan sampai puncak kejahilan manusia yaitu menyembah berhala. Tetapi masyarakat yang seolah tidak ditemukan potensi apapun ini tiba-tiba hanya dalam tempo yang sangat singkat yaitu 23 tahun berubah menjadi masyarakat yang maju dan dikenal sebagai pelopor dari peradaban modern, bahkan pasca Nabi SAW murid-muridnya (generasi sahabat dan tabiin dan tabiit tabiin) menjadi penguasa sepertiga dunia dan menjadi motor penggerak ilmu pengetahuan.
Kisah sedih sejarah Islam dimulai ketika masyarakat muslim -dimulai dari para rajanya- mulai terjebak dengan dunia, asyik masyuk dengan harta dan mulai melupakan Al-Quran, segera setelah itu berdatangan efek-efek yang sudah Nabi SAW peringatkan dahulu, yaitu cinta harta dan takut mati lalu secara perlahan namun pasti mulai jauh dari ilmu, setelahnya fase keruntuhan mulai terjadi. Pemicu kemunduran ini adalah jauhnya kaum muslimin di masa itu dari Al-Quran. Sungguh benar sabda Nabi saw : masyarakat dimuliakan dengan AlQuran atau dihinakan karena AlQuran.
Oleh karena itu kolom Tahfidz Quran hadir untuk menyemangati, mengusulkan beberapa trik, dan menyampaikan pengalaman para penghafal Quran. Agar para pembaca terinspirasi dan mulai menggerakkan proyek besar ; yaitu menghafal Al-Quran.
Kolom kecil ini juga membawa proposal dan semangat yang besar untuk memperbaiki keadaan ummat ini dengan mengajukan usulan kepada orangtua di rumah dan para pengajar di sekolah, agar merubah pola pengasuhan dan merubah pola pendidikan sejak usia dini dari fokus tujuan yang lain kepada ; AlQuran.
Hasil yang diharapkan adalah, anak-anak sejak usia dini sudah mengenal dan terbiasa dekat dengan AlQuran, kemudian dari kedekatan itulah tumbuh perasaan cinta yang InsyaAllah akan melejitkan kualitas dari interaksi mereka terhadap AlQuran. Kami memimpikan ada komitmen khusus dari orangtua dan guru, cara asuh istimewa serta cara ajar jenius beserta kurikulum pendidikanyang mampu menciptakan para penghafal AlQuran (lulus SD sudah hafal 30 juz penuh). Sehingga nanti di masa sekolah menengah pertama (SMP), di tingkat lanjutan atas (SMA) para hafiz itu sudah mendalami tentang bagaimana Nabi SAW mengajarkan, menjelaskan, dan merinci Al-Quran kepada para sahabat serta masyarakat pada masanya. Dan kelak di strata satu mereka sudah menyelami lautan pemahaman para ulama sesudah masa Nabi SAW dan sahabat. Di strata dua dan tiga mereka sudah mampu menggunakan semua ilmu-ilmu lain yang menghubungkan semua realita dunia dengan kebijakan ilahiah yaitu kitabullah Al-Quran untuk melahirkan banyak ide, banyak solusi, dan strategi penyelesaian masalah, serta menjalankan semuanya untuk memperbaiki segala kondisi yang buruk dan tak seimbang. Dengan hafalan AlQuran dalam kepala mereka, semuanya akan berbeda. Lebih istimewa, lebih berbobot dan lebih menjanjikan. Pikirannya, kata-katanya, dan perbuatannya.
Kalau kita berhasil mendekatkan generasi muda kepada AlQuran maka sesungguhnya kejayaan itu sedang terputar ulang menghampiri mereka. Dan Islam siap kembali memimpin. Sungguh ini bukan utopis, sebab masa itu sudah pernah terjadi. Kita hanya hendak mengulangnya kembali. Hanya kepada Allah Swt saja kami memohon kekuatan dan kemudahan agar Fahim Quran dapat membawakan kolom ini kepada pemirsa bersama manfaat yang besar. Aamiin.
AlQuran adalah mukzizat yang dibawa nabi Muhammad SAW misi utamanya adalah merubah para pembacanya. Melembutkan kegarangan, menguatkan yang ragu, menajamkan hati yang buram, mengasah kecerdasan, mendorong sebuah gerakan besar, mencipta figur pemimpin dan ummat berkualitas unggul. Pemimpin dan rakyat seperti inilah yang mampu menjadi pembaharu zaman dan menorehkan kehidupan yang ideal. Dan masa indah itu pernah terwujud, sejarah mengabadikannya, mencatatnya dalam rangkaian panjang perjalanan manusia, tak mungkin pudar walau orang-orang yang memusuhi Islam berusaha mengaburkan dan lalu hendak menghapus fakta ini.
AlQuran telah turun di tengah masyarakat gurun pasir yang kejahilannya sangat terkenal, hobi berperang antar mereka sendiri, sering melakukan penyerangan di perbatasan-perbatasan Jazirah Arab, punya kebiasaan menanam hidup-hidup bayi perempuan, perjudian, dan sampai puncak kejahilan manusia yaitu menyembah berhala. Tetapi masyarakat yang seolah tidak ditemukan potensi apapun ini tiba-tiba hanya dalam tempo yang sangat singkat yaitu 23 tahun berubah menjadi masyarakat yang maju dan dikenal sebagai pelopor dari peradaban modern, bahkan pasca Nabi SAW murid-muridnya (generasi sahabat dan tabiin dan tabiit tabiin) menjadi penguasa sepertiga dunia dan menjadi motor penggerak ilmu pengetahuan.
Kisah sedih sejarah Islam dimulai ketika masyarakat muslim -dimulai dari para rajanya- mulai terjebak dengan dunia, asyik masyuk dengan harta dan mulai melupakan Al-Quran, segera setelah itu berdatangan efek-efek yang sudah Nabi SAW peringatkan dahulu, yaitu cinta harta dan takut mati lalu secara perlahan namun pasti mulai jauh dari ilmu, setelahnya fase keruntuhan mulai terjadi. Pemicu kemunduran ini adalah jauhnya kaum muslimin di masa itu dari Al-Quran. Sungguh benar sabda Nabi saw : masyarakat dimuliakan dengan AlQuran atau dihinakan karena AlQuran.
Oleh karena itu kolom Tahfidz Quran hadir untuk menyemangati, mengusulkan beberapa trik, dan menyampaikan pengalaman para penghafal Quran. Agar para pembaca terinspirasi dan mulai menggerakkan proyek besar ; yaitu menghafal Al-Quran.
Kolom kecil ini juga membawa proposal dan semangat yang besar untuk memperbaiki keadaan ummat ini dengan mengajukan usulan kepada orangtua di rumah dan para pengajar di sekolah, agar merubah pola pengasuhan dan merubah pola pendidikan sejak usia dini dari fokus tujuan yang lain kepada ; AlQuran.
Hasil yang diharapkan adalah, anak-anak sejak usia dini sudah mengenal dan terbiasa dekat dengan AlQuran, kemudian dari kedekatan itulah tumbuh perasaan cinta yang InsyaAllah akan melejitkan kualitas dari interaksi mereka terhadap AlQuran. Kami memimpikan ada komitmen khusus dari orangtua dan guru, cara asuh istimewa serta cara ajar jenius beserta kurikulum pendidikanyang mampu menciptakan para penghafal AlQuran (lulus SD sudah hafal 30 juz penuh). Sehingga nanti di masa sekolah menengah pertama (SMP), di tingkat lanjutan atas (SMA) para hafiz itu sudah mendalami tentang bagaimana Nabi SAW mengajarkan, menjelaskan, dan merinci Al-Quran kepada para sahabat serta masyarakat pada masanya. Dan kelak di strata satu mereka sudah menyelami lautan pemahaman para ulama sesudah masa Nabi SAW dan sahabat. Di strata dua dan tiga mereka sudah mampu menggunakan semua ilmu-ilmu lain yang menghubungkan semua realita dunia dengan kebijakan ilahiah yaitu kitabullah Al-Quran untuk melahirkan banyak ide, banyak solusi, dan strategi penyelesaian masalah, serta menjalankan semuanya untuk memperbaiki segala kondisi yang buruk dan tak seimbang. Dengan hafalan AlQuran dalam kepala mereka, semuanya akan berbeda. Lebih istimewa, lebih berbobot dan lebih menjanjikan. Pikirannya, kata-katanya, dan perbuatannya.
Kalau kita berhasil mendekatkan generasi muda kepada AlQuran maka sesungguhnya kejayaan itu sedang terputar ulang menghampiri mereka. Dan Islam siap kembali memimpin. Sungguh ini bukan utopis, sebab masa itu sudah pernah terjadi. Kita hanya hendak mengulangnya kembali. Hanya kepada Allah Swt saja kami memohon kekuatan dan kemudahan agar Fahim Quran dapat membawakan kolom ini kepada pemirsa bersama manfaat yang besar. Aamiin.
Menghafal mencerdaskan secara holistik
“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.
Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.
Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.
Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).
Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.
Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya ara dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.
Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.
Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.
Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.
Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.
Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.
Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.
Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.
Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).
Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.
Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya ara dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.
Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.
Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.
Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.
Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.
Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.
Dua Syarat Menghafal Al Qur'an
Ada dua penyebab utama mengapa seorang muslim tidak menghafal Al-Quran atau tidak sukses dalam menghafal Al-Quran. Pertama ia tidak mengenal dengan baik Al-Quran Al-Kariim, kedua ia tidak mengenal dengan baik tentang otak dan khususnya memori manusia. Dua sebab utama ini menjadi akar dari sebab-sebab turunan lain yang akan melemahkan kemampuan seorang muslim dalam menghafal Al-Quran.
Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.
“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.
Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.
Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.
Apa manfaat menghafal Al-Quran ?
Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter
Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.
Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang mengusulkan dua paket respon emosional :
Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.
Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.
Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.
Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.
Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.
Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)
Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.
Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?
Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.
Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.
“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.
Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.
Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.
Apa manfaat menghafal Al-Quran ?
Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter
Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.
Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang mengusulkan dua paket respon emosional :
Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.
Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.
Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.
Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.
Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.
Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)
Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.
Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?
Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.
Selasa, 01 Februari 2011
Cara mengatasi malas
“Tugas ngajar dan kuliah masih menumpuk di meja, Mengulang hafalan qur'an, aah…… hanya dapat halaman pertama saja sudah capek bosen, mau membaca tetapi mengantuk akhirnya buku-buku menjadi bantal, karpet lantai selalu menyapaku di malam hari, hmm… apa yang bisa diperbuat agar malas jauh dari diriku?! Akankah hidup yang bagaikan musafir ini disia-siakan begitu saja? ooh Tidak… tidak boleh hal itu terjadi padaku, aku harus bisa memusuhi 5 huruf itu yaitu MALAS.” Malas bisa kita hindari ketika ia datang menyerang kemauan dan semangat kita, di bawah ini ada beberapa tips antara lain:
1. Membasuh muka atau mandi ketika kantuk menyerang.
2. Mengubah posisi duduk ketika membaca. Misalnya dari duduk berubah menjadi berdiri, namun disarankan jangan dari duduk terus berbaring bisa berbahaya atau bisa kebablasan tidur.
3. Berpindah dari ruang baca ke kamar yang lain. Kalau sebagai santri bisa disiasati, berpindah dari dalam masjid kita ke beranda masjid, taman/kebun atau bahkan bisa juga ke kamar mandiambil airdan basuhkan kemuka.
4. Menghirup udara yang segar dengan cara berdiri di dekat jendela atau membuka jendela-jendela kamar /kelas lain untuk menambah kesegaran. Sebagai santri bisa disiasati dengan menciptakan aroma terapi, misalnya dengan menyetel kipas untuk menyebarkan wangi-wangian tersebut ke segala ruang.
5. Berjalan-jalan sebentar di sekeliling rumah/pesantren. Bisa diganti dengan kegiatan yang lain misalnya merapikan rak yang berantakan, atau kegiatan yang lain yang bisa menggerakkan otot-otot kita.
6. Berbincang-bincang sebentar dengan teman sekos namun mengenai hal mubah bukan keharoman. Hati-hati jangan sampai lupa tujuan utama dalam berbincang-bincang yaitu untuk menumbuhkan semangat, bukan untuk ngobrol bahkan meng-ghibah.
7. Berdiri membuat secangkir kopi, teh, susu atau juice untuk menghilangkan kebosanan dan menjernihkan akal kalo ada he.
8. Mengubah kegiatan ketaatan. Misal bosan menghafalkan surat berganti dengan membaca, jika membaca bosan bisa diganti dengan mendengarkan murottal lewat CD. Itulah beberapa tips agar kita bisa terjauh dari penyakit malas. Akan tetapi yang paling utama jangan sampai kita lupa berdo’a agar Alloh senantiasa memberi kita semangat dan agar menjauhkan diri kita dari penyakit malas tersebut. Wallohu A’lam bishowab.ingat musuh terbesar kita adalah males Semoga tips di atas dapat bermanfaat bagi penulis ataupun bagi pembaca. Selamat tinggal Malas…
1. Membasuh muka atau mandi ketika kantuk menyerang.
2. Mengubah posisi duduk ketika membaca. Misalnya dari duduk berubah menjadi berdiri, namun disarankan jangan dari duduk terus berbaring bisa berbahaya atau bisa kebablasan tidur.
3. Berpindah dari ruang baca ke kamar yang lain. Kalau sebagai santri bisa disiasati, berpindah dari dalam masjid kita ke beranda masjid, taman/kebun atau bahkan bisa juga ke kamar mandiambil airdan basuhkan kemuka.
4. Menghirup udara yang segar dengan cara berdiri di dekat jendela atau membuka jendela-jendela kamar /kelas lain untuk menambah kesegaran. Sebagai santri bisa disiasati dengan menciptakan aroma terapi, misalnya dengan menyetel kipas untuk menyebarkan wangi-wangian tersebut ke segala ruang.
5. Berjalan-jalan sebentar di sekeliling rumah/pesantren. Bisa diganti dengan kegiatan yang lain misalnya merapikan rak yang berantakan, atau kegiatan yang lain yang bisa menggerakkan otot-otot kita.
6. Berbincang-bincang sebentar dengan teman sekos namun mengenai hal mubah bukan keharoman. Hati-hati jangan sampai lupa tujuan utama dalam berbincang-bincang yaitu untuk menumbuhkan semangat, bukan untuk ngobrol bahkan meng-ghibah.
7. Berdiri membuat secangkir kopi, teh, susu atau juice untuk menghilangkan kebosanan dan menjernihkan akal kalo ada he.
8. Mengubah kegiatan ketaatan. Misal bosan menghafalkan surat berganti dengan membaca, jika membaca bosan bisa diganti dengan mendengarkan murottal lewat CD. Itulah beberapa tips agar kita bisa terjauh dari penyakit malas. Akan tetapi yang paling utama jangan sampai kita lupa berdo’a agar Alloh senantiasa memberi kita semangat dan agar menjauhkan diri kita dari penyakit malas tersebut. Wallohu A’lam bishowab.ingat musuh terbesar kita adalah males Semoga tips di atas dapat bermanfaat bagi penulis ataupun bagi pembaca. Selamat tinggal Malas…
Langganan:
Komentar (Atom)









